Tampilkan postingan dengan label jurusan manajemen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label jurusan manajemen. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 09 Mei 2015

Kehidupan Budaya di Maluku dan Maluku Utara

Budaya Maluku Dan Maluku Utara

Budaya Maluku adalah aspek kehidupan yang mencakup adat istiadat, kepercayaan, seni dan kebiasaan lainnya yang dijalani dan diberlakukan oleh masyarakat Maluku. [1] Maluku adalah sekelompok pulau yang merupakan bagian dariNusantara. [2] Maluku berbatasan dengan Timor di sebelah selatan, pulau Sulawesi di sebelah barat, Irian Jaya di sebelah timur dan Palau di timur laut. [2] Maluku memiliki beragam budaya dan adat istiadat mulai dari alat musik, bahasa, tarian, hingga seni budaya. [1]

Budaya Kalwedo[sunting | sunting sumber]

Salah satu dari banyaknya budaya Maluku adalah Kalwedo. [3] Kalwedo adalah bukti yang sah atas kepemilikan masyarakat adat di Maluku Barat Daya (MBD). [3] Kepemilikan ini merupakan kepemilikan bersama atas kehidupan bersama orang bersaudara. [4] Kalwedo telah mengakar dalam kehidupan baik budaya maupun bahasa masyarakat adat di kepulauan Babar dan MBD. [3] Pewarisan budaya Kalwedo dilakukan dalam bentuk permainan bahasa, lakon sehari-hari,adat istiadat, dan pewacanaan. [4]

Nilai Adat Kalwedo[sunting | sunting sumber]

Kalwedo merupakan budaya yang memiliki nilai-nilai sosial keseharian, dan juga nilai-nilai religius yang sakral yang menjamin keselamatan abadi, kedamaian, dan kebahagiaan hidup bersama sebagai orang bersaudara. [4] Budaya Kalwedo mempersatukan masyarakat di kepulauan Babar maupun di Maluku Barat Daya dalam sebuah kekerabatan adat, dimana mempersatukan masyarakat menjadi rumah doa dan istana adat milik bersama.[3] Nilai Kalwedo diimplementasikan dalam sapaan adat kekeluargaan lintas pulau dan negeri, yaitu: inanara ama yali (saudara perempuan dan laki-laki). [4]Inanara ama yali menggambarkan keutamaan hidup dan pusaka kemanusiaan hidup masyarakat MBD, yang meliputi totalitas hati, jiwa, pikiran dan perilaku.[4]
Nilai-nilai Kalwedo tersebut mengikat tali persaudaraan masyarakat melalui tradisi hidup Niolilieta/hiolilieta/siolilieta (hidup berdampingan dengan baik). [3] Tradisi hidup masyarakat MBD dibentuk untuk saling berbagi dan saling membantu dalam hal potensi alam, sosial, budaya, dan ekonomi yang diwariskan oleh alam kepulauan MBD. [3]

Budaya Hawear[sunting | sunting sumber]

Sasi (Hawear) di Kepulauan Kei
Hawear (Sasi) adalah budaya yang tumbuh dan berlaku dalam kehidupan masyarakatKepulauan Kei secara turun menurun. [5] Cerita rakyat, lagu rakyat, dan berbagai dokumen tertulis merupakan prasarana untuk melestarikan kekayaan budaya termasuk Hawear. [4] Sejarah Hawear bermula dari seorang gadis yang diberikan daunkelapa kuning (janur kuning) oleh ayahnya. [4] Kemudian janur kuning itu disisipkan atau diikat di kain seloi yang dipakainya. [4] Gadis tersebut melakukan perjalanan panjang untuk menemui seorang raja (Raja Ahar Danar). [4] Maksud dari janur kuningtersebut sebagai tanda bahwa ia telah dimiliki oleh seseorang, dimaksudkan agar ia tidak diganggu oleh siapapun selama perjalanan. [4] Janur kuning tersebut diberikan oleh sang ayah, karena sang ayah pernah diganggu oleh orang-orang tak dikenal dalam perjalanannya. [4] Hal ini adalah proses Hawear yang masih dijalankan sesuai dengan maknanya hingga saat ini.[5]

Batu Pamali[sunting | sunting sumber]

Contoh: Batu Pamali Negeri Saparua
Batu Pamali adalah simbol material adat masyarakat Maluku. [6] Selain Baileo, rumah tua, dan teung soa, batu Pamali juga termasuk mikrosmos dalam negeri-negeri yang ditempati masyarakat adat Maluku.[6] Batu Pamali merupakan batu alas atau batu dasar berdirinya sebuah negeri adat yang selalu diletakkan di samping rumah Baileo, sekaligus sebagai representasi kehadiran leluhur (Tete Nene Moyang) di dalam kehidupan masyarakat. [6] Batu Pamali sebagai bentuk penyatuan soa-soa dalam negeri adat, dengan demikian batu Pamali adalah milik bersama setiap soa. [4] Di beberapa negeri adat Maluku, batu Pamali dimiliki secara kolektif, termasuk negeri adat yang masyarakatnya memeluk agama yang berbeda. [6] Seiring dengan perkembangan agama di masyarakat, terjadi pergeseran praktik ritus dan keberadaan batu Pamali. [6] Dengan adanya UU No. tahun 1979, adat asli negeri-negeri diganti dengan penyeragaman sistem pemerintahan desa. [6]

Upacara Fangnea Kidabela[sunting | sunting sumber]

Kepulauan Tanimbar yang sekarang menjadi Kabupaten Maluku Tenggara Barat, memiliki kebudayaan yang mengatur persaudaraan dan kehidupan sosial masyarakat dalam bentuk Duan Lolat dan Kidabela. [7] Duan Lolat mengatur tentang hubungan sosial masyarakat yang luas, yaitu memperkuat hubungan antardua desa atau lebih, dan hubungan tersebut diwujudkan dalam bentuk Kidabela. [7] Upacara Fangnea Kidabela memperkokoh hubungan sosial masyarakat Tanimbar dalam wadah persaudaraan dan persekutuan agar tidak mudah pecah atau retak. [7]

Makna Upacara Fangnea Kidabela[sunting | sunting sumber]

Upacara Fangnea Kidabela mengandung makna persatuan dan kesatuan hidup masyarakat Tanimbar baik internal maupun eksternal dalam setiap situasi. [7] Upacara Fangnea Kidabela juga mengandung makna sebagai pemanasan, pengerasan, dan pemantapan (fangnea) terhadap persahabatan, persaudaraan (itawatan) dan keakraban (kidabela) di antara sesama sebagai suatu persekutuan wilayah teritorial Kampung Sulung di pulau Enus yang terletak di Selaru bagian selatan pulau Yamdena. [7] Makna upacara Frangnea Kidabela sama dengan upacara Panas Pela di Ambon, Lease, danMaluku Tengah. [7] Upacara ini menciptakan suasana hidup bermasyarakat yang kokoh dan kuat untuk mencegah fenomena konflik dan perpecahan terhadap hubungan masyarakat. [7]

Hibua Lamo[sunting | sunting sumber]

Hibua Lamo adalah rumah besar yang dijadikan simbol masyarakat adat di Halmahera Utara, sekaligus simbol Pemerintah Kabupaten Halmahera Utara, Maluku Utara. [8] Di Halmahera Utara terdapat tiga etnis masyarakat yang memiliki rumah adat masing-masing, misalnya rumah adat etnis Tobelo disebut Halu. [8] Namun Hibua Lamo yang menjadi pemersatu semua etnis. [8] Hibua Lamo adalah konstruksi dari nilai-nilai hidup dalam masyarakat yang mengidentifikasi dirinya sebagai komunitas Hibua Lamo. [9] Hibua Lamo merupakan konsep bersama yang disebut Nanga Tau Mahirete (rumah kita bersama). [9] Orang Tobelo, Galela dan Loloda tersegregasi secara geografis, dan terbelenggu dalam tradisi, agama dan kepercayaan yang berbeda. [9] Perbedaan tersebut dipahami dan dihayati dengan kesucian hati dan kemurnian pikiran, kemudian diterapkan dalam sebuah ungkapan filosofis Ngone O'Ria Dodoto yang bermakna satu ibu satu kandung. [8]Konsekuensi dari falsafah Nanga Tau Mahurete dan Ngone O'Ria Dodoto adalah lahirnya sebuah komunitas asli Halmahera Utara daratan maupun kepulauan dalam satu kesatuan yang teridentifikasi sebagai komunitas Hibua Lamo dan kemudian disimbolkan dalam rumah adat Himua Lamo. [8]
Dalam konteks ini komunitas Tobelo, Galela, dan Loloda mengalami proses penyatuan dalam satu sosiokultural baru yang dinamis. [8] Sosiokultural ini berlandaskan pada nilai-nilai O'dora (saling kasih), O'hanyangi (saling sayang), O'baliara(saling peduli), O'adili (perikeadilan) dan O'diai (kebenaran) dalam bingkai Nanga Tau Mahurete dan Ngone O'Ria Dodoto.[8]

Budaya Arumbae[sunting | sunting sumber]

Lomba Arumbae Manggurebe
Arumbae adalah bentukan karakter masyarakat Maluku, baik yang tinggal di pesisir maupun di pegunungan. [9] Arumbae adalah kebudayaan berlayar dalam masyarakat Maluku. [9] Perjuangan melintasi lautan merupakan bagian dari terbentuknya suatu masyarakat. [9] Sebagai contoh, masyarakat Tanimbar - dalam mitosBarsaidi meyakini bahwa leluhur mereka tiba di pulau Yamdena setelah melewati perjuangan yang sulit di lautan. [9] Perjuangan melintasi lautan merupakan sejarah keluhuran. [1] Kedatangan para leluhur dari pulau Seram, pulau Jawa (seperti Tuban dan Gresik) dan pulau Balimenjadi bagian dari cerita keluhuran masyarakat di Maluku Tengah,Buru, Ambon, Lease, dan Maluku Tenggara. [1] Ragam cerita inilah yang membentuk terjadinya persekutuan Pela Gandong antar negeri.[1] Dalam pataka daerah Maluku, Arumbae menjadi simbol daerah yang di dalamnya terdapat lima orang sedang mendayung menghadapi tantangan lautan. [1] Secara filosofis, maknanya ialah masyarakat Maluku adalah masyarakat yang dinamis, dan penuh daya juang dalam menghadapi tantangan untuk menyongsong masa depan yang gemilang. [1]
Laut adalah medan penuh bahaya dan Arumbae menstrukturkan cara pandang bahwa laut adalah medan kehidupan yang harus dihadapi. [1] Itulah sebabnya, masyarakat Maluku melihat laut sebagai jembatan persaudaraan yang menghubungkan satu pulau dengan pulau lainnya. [1] Berlayar ke suatu pulau, seperti dalam Pela Gandong bertujuan untuk mengeratkan jalinan hidup orang bersaudara sebagai pandangan dunia orang Maluku. [1] Kebiasaan papalele,babalu, maano, dan konsekuensi berlayar ke pulau lain, membuat laut dan arumbae sebagai simbol perjuangan ekonomi.[1]
Arumabe tampak dalam beragam karya seni. [1] Misalnya dalam syair kata tujuh ya nona, ditambah tujuh, sapuluh ampa ya nona dalang parao [1] Banyak gapura negeri adat Maluku berbentuk Arumbae. [1] Lagu daerah banyak mengumpamakan keharmonisan dengan simbol perahu atau Arumbae. [1] Di bidang olahraga, Arumbae Manggurebe menjadi programpariwisata dan olah raga tahunan yang diselenggarakan di Teluk Ambon. [1]

Sasahil dan Nekora[sunting | sunting sumber]

Sasahil dan Nekora merupakan tradisi masyarakat adat di Negeri Siri Sori Islam dan Negeri Siri Sori Kristen di pulauSaparua. [10] Bagi masyarakat desa Telalora, Nekora memiliki basis nilai tolong-menolong antarwarga. [10] Nilai tradisi Sasahil dan Nekora terletak pada cara dan proses pelaksanaan. [10] Nilai tolong-menolong yang terdapat dalam tradisi Sasahil maupun Nekora memiliki basis solidaritas yang kuat, dan menciptakan relasi saling memberi dan menerima antarwarga agar suatu pekerjaan berat untuk mendirikan rumah bisa lebih ringan. [10] Dalam menghadapi dinamika kehidupan yang terus berubah, tradisi Sasahil dan Nekora selalu dipertahankan dan dipelihara dengan baik. [10] Hal ini dimaksudkan sebagai modal sosial kelangsungan hidup bermasyarakat di masa mendatang. [10]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b c d e f g h i j k l m n o p Berlayar dalam Ombak, Berkarya bagi Negeri. Ralahalu Institute, 2012
  2. ^ a b Juni, 2010. Kepulauan Rempah-rempah: Perjalanan Sejarah Maluku Utara 1250-1950
  3. ^ a b c d e f Budaya Kalwedo di Maluku Barat Daya. Balai Pelestarian Nilai Budaya Ambon, 2012
  4. ^ a b c d e f g h i j k l "Budaya Kalwedo di Maluku Barat Daya". Unpatti. Diakses 2 April 2014.01.00.
  5. ^ a b Hawear di Kepulauan Kei. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Balai Pelestarian Budaya Ambon, 2012
  6. ^ a b c d e f Peranan Batu Pamali dalam Kehidupan Masyarakat Adat di Maluku. Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Balai Pelestarian Budaya Ambon, 2012.
  7. ^ a b c d e f g Upacara Fangnea Kidabela. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Balai Pelestarian Budaya Ambon, Jendela Buku, 2012
  8. ^ a b c d e f g Hibua Lamo dalam Kehidupan Masyarakat Adat Tobelo di Halmahera Utara. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Balai Pelestarian Budaya Ambon, 2012
  9. ^ a b c d e f g "Hibua Lamo dalam Kehidupan Masyarakat Adat Tobelo di Halmahera Utara". Unpatti. Diakses 9 April 2014.11.15.
  10. ^ a b c d e f Sasahil dan Nekora Tradisi Tutup Rumah di Maluku. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Balai Pelestarian Budaya Ambon, 2012

Jumat, 08 Mei 2015

Lambang-lambang Zionis dan Setan Sekutunya Merasuk Kedalam Kehidupan kita

‎” MENGAPA ADA LAMBANG TANDUK SETAN DI ATAS KA’BAH “

‎” TANDUK SETAN DI ATAS KA’BAH “
Tidak diragukan lagi bahwa pembangunan menara “tanduk setan” di atas Ka’bah adalah bukti telah berkuasanya zionisme atas kota suci Mekkah.
Maka jadi beralasan jika salah satu misi Imam Mahdi kelak adalah membebaskan Mekkah dari kejahilan dan kemusrikan.
Anda orang Islam yang percaya bahwa lambang bulan sabitnya adalah lambang Islam. Lambang bulan sabit adalah simbol penyembahan berhala Romawi. Adapun bintang lima sebenarnya adalah simbol zionisme yahudi yang diadopsi oleh gerakan komunisme yang juga didirikan oleh orang-orang yahudi. Simbol bulan sabit pertama kali diadopsi oleh orang-orang Turki, yang sebelumnya adalah orang-orang Romawi penyembah simbol bulan sabit.
“Apakah kami tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu telah bertindak terhadap tentara bergajah?” Bukankah Dia telah menjadikan tipu daya mereka (untuk menghancurkan Ka’bah) itu sia-sia? Dan dia mengirimkan kepada mereka burung yang berbondong-bondong. Yang melempari mereka dengan batu (berasal) dari tanah yang terbakar. Lalu Dia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan ulat.” (QS. Al-Fiil: 1-5) —
Namun saya masih belum menemukan orang-orang Islam mana yang pertama memasukkan simbol bintang lima sebagai simbol Islami. Setelah diterima luas di kalangan Islam, simbol bulan bintang kini telah ditinggalkan oleh sebagian umat Islam, terlihat dari masjid-masjid yang tidak lagi menggunakan simbol tersebut di atas menaranya.
Perlu dicatat bahwa Rosulullah dan para sahabat serta para pengikut Islam awal tidak mengenal simbol ini. Demikian juga orang-orang Shiah dari dahulu hingga sekarang. Namun di sisi lain, perkembangan yang lebih mengkhawatirkan juga terjadi. Bulan sabit ditinggalkan, namun diganti dengan simbol tanduk setan. Dan tanduk setan itu kini tengah mengangkangi Ka’bah, tempat paling suci umat Islam di seluruh dunia sepanjang sejarah.
Berbeda dengan bulan sabit, “tanduk setan” sebenarnya telah dikenal oleh umat Islam awal. Dalam kitab hadits “Shahih” tulisan Bukhari yang dianggap sebagai kitab paling afdhol oleh sebagian besar umat Islam disebutkan, suatu hari Rosulullah berkata pada orang-orang sambil menunjuk rumah Aishah (istri Rosulullah): “Di sinilah sumber fitnah, tempat munculnya “tanduk setan””
Beberapa saat sebelum meninggal, Rosulullah memberikan perintah kepada umat Islam untuk menyingkirkan segala simbol kekotoran dari sekitar kota suci Mekkah dan Jazirah Arab. Untuk itu beliau memerintahkan pengusiran orang-orang kafir dan mushrik dari tanah Arab. Namun kita bisa menyaksikan sendiri saat ini, amanat Rosulullah tersebut telah dikhianati oleh orang-orang Arab Saudi. Mereka mengundang pasukan kafir Amerika untuk membangun markas di Jazirah Arab.
Tidak hanya itu, orang-orang Arab Saudi bahkan mengundang orang-orang kafir dan musrik untuk membangun kota Mekkah dan tinggal di sana hingga kota Mekkah kini hampir tidak berbeda dengan kota-kota maksiat lainnya. Namun semua itu masih belum seberapa dengan pengkhianatan ini: membangun simbol “tanduk setan” raksasa di atas Ka’bah.
Para pembela regim Saudi boleh saja berdalih membela pembangunan Menara Ka’bah yang menempatkan simbol “tanduk setan” di puncaknya dengan dalih Rosulullah pernah bersabda bahwa Dajjal (iblis dalam wujud fisik) tidak bisa memasuki Mekkah yang dijaga ribuan malaikat, jadi tidak mungkin simbol serupa tanduk di atas Menara Ka’bah adalah simbol “tanduk setan”. Fine, tapi Rosulullah juga tidak pernah mengatakan bahwa para penganut iblis tidak bisa memasuki dan menguasai Mekkah.
Setelah penghancuran tempat-tempat bersejarah umat Islam di sekitar Makkah dan Madinah, termasuk penghancuran rumah Rosulullah dan kemudian penempatan prajurit-prajurit kafir Amerika-yahudi di Jazirah Arab maka tidak bisa diragukan lagi bahwa pembangunan menara “tanduk setan” di atas Ka’bah adalah bukti telah berkuasanya zionisme atas kota suci Mekkah. Maka jadi beralasan jika salah satu misi Imam Mahdi kelak adalah membebaskan Mekkah dari kejahilan dan kemusrikan.

Hikayat Simbol Bulan Bintang

Siapa sangka simbol yang kerap diagung-agungkan oleh umat Islam se-dunia itu ternyata berasal dari budaya pagan?
Sangat sulit saat ini untuk memisahkan Islam dengan simbol bulan bintang. Simbol tersebut sudah identik, seperti halnya tanda salib untuk Kristen dan bintang daud untuk Yahudi.
Jauh sebelum kedatangan Islam di tanah Mekah, sekitar 670 SM, orang-orang Byzantium sudah menggunakan simbol ini untuk menggambarkan sang dewi bulan yang bernama Artemis (Romawi mengadopsinya menjadi Diana, dan Kartago mengadopsinya menjadi Tanit).
Pada abad 2 SM, legion Romawi menyerbu Byzantium dan mendirikan Romawi Timur. Kendati menjadi penjajah, tidak serta merta mereka membuang semua yang berbau Byzantium. Beberapa kebudayaan dan keyakinan Byzantium mereka serap ke dalam kebudayaan dan keyakinan mereka.
Salah satu simbol agama yang diadopsi oleh orang-orang Romawi adalah bulan bintang tersebut.Pada masa pemerintahan Kaisar Constantinus I (306-337), bulan bintang dijadikan symbol ibu kota Konstantinopel (Constantinopolis). Di era pemerintahannya: lambang terpasang dimana-mana: mulai di gedung-gedung pemerintahan hingga di tempat-tempat peribadatan agama kaisar tersebut yakni Kristen Timur.
Hal yang sama dilakukan oleh Kesultanan Utsmaniyah (Ottoman) saat mereka menaklukan Konstantinopel pada 1453. Alih-alih menghancur-leburkan seluruh yang berbau Romawi Timur, mereka malah menambahkan lambang bulan bintang di bendera Ottoman yang tadinya hanya berbentuk segitiga berwarna merah polos.
Dari Kesultanan Utsmaniyyah simbol ini lantas menyebar ke negeri-negeri lain dan kerap dihubung-hubungkan dengan agama resmi kesultanan tersebut yakni Islam. Karena itu adalah wajar jika hari ini, ada belasan negara Islam yang memakai lambang bulan bintang dalam benderanya.
Bahkan bukan hanya pada bendera, di tempat-tempat peribadatan orang Islam simbol ini pun dipasang sebagai ekspresi identitas spiritual. Padahal di era Nabi Muhammad pun identitas bendera umat Islam adalah warna hitam, putih atau hijau tanpa lambang atau tulisan apapun. Itu pun digunakan oleh pasukan Nabi, sebagai penanda posisi pasukan semata. [Islam-Indonesia/hendijo]
LINK TERKAIT :

Darimana Asal Simbol Bulan Sabit & Bintang dalam Islam?

April 15, 2013 – Hikmah Islam – Ditandai: , , , , , ,  – 0 Comments

Bendera Kesultanan Turki Utsmaniyah (1453-1844)
Gambar Bulan Sabit dan kadang disertai Bintang di atasnya sering kali muncul pada situs atau gambar atau kejadian yang berkaitan dengan kegiatan umat islam. Dari manakah simbol bulan bintang ini berasal. Apakah Rasulullah menggunakannya di masa lalu? Bolehkah kita, sebagai umat islam menggunakannya sekarang?

Sejarah Samar Bulan Sabit

Bendera_Kesultanan_Turki_Utsmaniyah_(1453-1844)Sebenarnya, tidak banyak informasi yang menunjukkan asal muasal simbol bulan sabit dan bintang ini dalam islam. Tidak ada hadits atau riwayat para shahabat dan kaum tabi’in yang menyatakan adanya penggunaan simbol ini di masa awal islam. Jika ada riwayat penggunaan bendera atau panji-panji, itu terjadi di saat kaum muslimin melakukan peperangan. Dan hal semacam itu merupakan kebiasaan sebuah pasukan perang, baik di masa lalu maupun sekarang.
Panji atau bendera kaum muslimin sendiri tidak memiliki standar atau warna tertentu yang ditetapkan berdasarkan perintah Allah atau Nabi Muhammad. Ada yang mengabarkan warnanya hitam, hijau atau putih. Ada yang menyatakan itu polos saja atau bertuliskan kalimat Tauhid: laa ilaaha illaallaah, muhammadar rasuulullaah. Yang jelas tidak ada gambar bulan bintang.
10547648_10204207082407168_4948625370960487162_n (1)Menurut catatan sejarah, simbol bulan bintang baru muncul dan dipakai kaum muslimin di masa pemerintahan Kekhalifahan Utsmaniyah di Turki. Ketika mereka berhasil menguasai Konstantinopel, kota Istambul sekarang, pada tahun 1453, mereka mengadopsi lambang kota itu sebagai panji pasukan Utsmaniyah. Legenda menyebutkan bahwa Sultan Utsman, penguasa saat itu, bermimpi melihat 2 ujung bulan sabit membentang dari ujung bumi yang satu hingga ujung lainnya. Hal itu diartikan sebagai pertanda kebaikan dan kejayaan sehingga ia memilih untuk mengadopsi lambang kota yang ditaklukkannya sebagai simbol Dinasti Utsmaniyah yang dibangunnya.
Saat itu, hanya ada bulan sabit emas dalam bendera tersebut. Seiring dengan waktu, bintang terkadang muncul dalam bendera baru mereka. Dan ketika kejatuhan Kekhilafahan terjadi, bendera terakhir mereka adalah bulan sabit dan bintang berwarna putih.
Ratusan tahun lamanya Kekhilafahan Turki Utsmaniyah mengayomi kaum muslimin dan sering terlibat pertempuran dengan pihak Kristen Eropa. Alhasil, terpatrilah dalam benak setiap orang di dunia bahwa simbol bulan sabit dan bintang merupakan simbol kaum muslimin.
Apalagi jika dikaitkan dengan kalender islam yang berbasis peredaran bulan, maka simbol itu semakin terasa pas untuk kaum muslimin. Setiap bulan, kaum muslimin akan mencoba menentukan kapan bulan sabit atau hilal bisa dilihat yang menandai masuknya bulan baru.

Hukum Menggunakan Lambang Bulan Bintang

Sebagian kaum muslimin melihat bahwa bulan bintang tidak dicontohkan penggunaannya oleh Rasulullah, dan karenanya menolak lambang ini. Sebagian yang lain melihat bahwa secara umum tidak masalah karena memang pada kenyataannya orang sudah mengasosiasikan lambang bulan sabit dengan kaum muslimin.
Yang utama bagi kita, kaum muslimin adalah bahwa Allah dan Rasul-Nya tidak meminta kita untuk menjadikan simbol apapun untuk diagung-agungkan, dikeramatkan. Bahkan Islam sangat menentang kemusyrikan yang bisa bermula dari pengkultusan, pengidolaan, atau penghormatan berlebihan terhadap suatu hal.
Semoga bermanfaat.