Salah satu dari banyaknya budaya Maluku adalah Kalwedo.
[3] Kalwedo adalah bukti yang sah atas kepemilikan masyarakat adat di
Maluku Barat Daya (MBD).
[3] Kepemilikan ini merupakan kepemilikan bersama atas kehidupan bersama orang bersaudara.
[4] Kalwedo telah mengakar dalam kehidupan baik budaya maupun bahasa masyarakat adat di kepulauan
Babar dan MBD.
[3] Pewarisan budaya Kalwedo dilakukan dalam bentuk permainan bahasa, lakon sehari-hari,
adat istiadat, dan pewacanaan.
[4]
Kalwedo merupakan budaya yang memiliki nilai-nilai
sosial keseharian, dan juga nilai-nilai religius yang sakral yang menjamin keselamatan abadi, kedamaian, dan kebahagiaan hidup bersama sebagai orang bersaudara.
[4] Budaya Kalwedo mempersatukan masyarakat di kepulauan Babar maupun di Maluku Barat Daya dalam sebuah kekerabatan adat, dimana mempersatukan masyarakat menjadi rumah doa dan istana adat milik bersama.
[3] Nilai Kalwedo diimplementasikan dalam sapaan adat kekeluargaan lintas
pulau dan
negeri, yaitu:
inanara ama yali (saudara perempuan dan laki-laki).
[4]Inanara ama yali menggambarkan keutamaan hidup dan
pusaka kemanusiaan hidup masyarakat MBD, yang meliputi totalitas
hati,
jiwa,
pikiran dan
perilaku.
[4]
Nilai-nilai Kalwedo tersebut mengikat tali persaudaraan masyarakat melalui tradisi hidup
Niolilieta/hiolilieta/siolilieta (hidup berdampingan dengan baik).
[3] Tradisi hidup masyarakat MBD dibentuk untuk saling berbagi dan saling membantu dalam hal potensi
alam,
sosial,
budaya, dan
ekonomi yang diwariskan oleh alam kepulauan MBD.
[3]

Sasi (Hawear) di Kepulauan Kei
Hawear (Sasi) adalah budaya yang tumbuh dan berlaku dalam kehidupan masyarakat
Kepulauan Kei secara turun menurun.
[5] Cerita rakyat,
lagu rakyat, dan berbagai dokumen tertulis merupakan prasarana untuk melestarikan kekayaan budaya termasuk Hawear.
[4] Sejarah Hawear bermula dari seorang
gadis yang diberikan daun
kelapa kuning (janur kuning) oleh ayahnya.
[4] Kemudian janur kuning itu disisipkan atau diikat di kain seloi yang dipakainya.
[4] Gadis tersebut melakukan perjalanan panjang untuk menemui seorang
raja (
Raja Ahar Danar).
[4] Maksud dari janur
kuningtersebut sebagai tanda bahwa ia telah dimiliki oleh seseorang, dimaksudkan agar ia tidak diganggu oleh siapapun selama perjalanan.
[4] Janur kuning tersebut diberikan oleh sang ayah, karena sang ayah pernah diganggu oleh orang-orang tak dikenal dalam perjalanannya.
[4] Hal ini adalah proses Hawear yang masih dijalankan sesuai dengan maknanya hingga saat ini.
[5]

Contoh: Batu Pamali Negeri Saparua
Batu Pamali adalah simbol material adat masyarakat Maluku.
[6] Selain
Baileo, rumah tua, dan
teung soa, batu Pamali juga termasuk mikrosmos dalam negeri-negeri yang ditempati masyarakat adat Maluku.
[6] Batu Pamali merupakan batu alas atau batu dasar berdirinya sebuah negeri adat yang selalu diletakkan di samping rumah Baileo, sekaligus sebagai representasi kehadiran leluhur (Tete Nene Moyang) di dalam kehidupan masyarakat.
[6] Batu Pamali sebagai bentuk penyatuan soa-soa dalam negeri adat, dengan demikian batu Pamali adalah milik bersama setiap
soa.
[4] Di beberapa negeri adat Maluku, batu Pamali dimiliki secara kolektif, termasuk negeri adat yang masyarakatnya memeluk agama yang berbeda.
[6] Seiring dengan perkembangan agama di masyarakat, terjadi pergeseran praktik ritus dan keberadaan batu Pamali.
[6] Dengan adanya UU No. tahun
1979, adat asli negeri-negeri diganti dengan penyeragaman sistem pemerintahan desa.
[6]
Kepulauan
Tanimbar yang sekarang menjadi Kabupaten
Maluku Tenggara Barat, memiliki kebudayaan yang mengatur persaudaraan dan kehidupan sosial masyarakat dalam bentuk Duan Lolat dan Kidabela.
[7] Duan Lolat mengatur tentang hubungan sosial masyarakat yang luas, yaitu memperkuat hubungan antardua desa atau lebih, dan hubungan tersebut diwujudkan dalam bentuk Kidabela.
[7] Upacara Fangnea Kidabela memperkokoh hubungan sosial masyarakat Tanimbar dalam wadah persaudaraan dan persekutuan agar tidak mudah pecah atau retak.
[7]
Upacara Fangnea Kidabela mengandung makna persatuan dan kesatuan hidup masyarakat Tanimbar baik internal maupun eksternal dalam setiap situasi.
[7] Upacara Fangnea Kidabela juga mengandung makna sebagai pemanasan, pengerasan, dan pemantapan (fangnea) terhadap persahabatan, persaudaraan (itawatan) dan keakraban (kidabela) di antara sesama sebagai suatu persekutuan wilayah teritorial
Kampung Sulung di pulau
Enus yang terletak di
Selaru bagian selatan pulau Yamdena.
[7] Makna upacara Frangnea Kidabela sama dengan upacara
Panas Pela di
Ambon,
Lease, dan
Maluku Tengah.
[7] Upacara ini menciptakan suasana hidup bermasyarakat yang kokoh dan kuat untuk mencegah fenomena konflik dan perpecahan terhadap hubungan masyarakat.
[7]
Hibua Lamo adalah rumah besar yang dijadikan simbol masyarakat adat di
Halmahera Utara, sekaligus simbol Pemerintah Kabupaten Halmahera Utara,
Maluku Utara.
[8] Di Halmahera Utara terdapat tiga etnis masyarakat yang memiliki rumah adat masing-masing, misalnya rumah adat etnis
Tobelo disebut
Halu.
[8] Namun Hibua Lamo yang menjadi pemersatu semua etnis.
[8] Hibua Lamo adalah konstruksi dari nilai-nilai hidup dalam masyarakat yang mengidentifikasi dirinya sebagai komunitas Hibua Lamo.
[9] Hibua Lamo merupakan konsep bersama yang disebut
Nanga Tau Mahirete (rumah kita bersama).
[9] Orang Tobelo,
Galela dan
Loloda tersegregasi secara geografis, dan terbelenggu dalam tradisi, agama dan kepercayaan yang berbeda.
[9] Perbedaan tersebut dipahami dan dihayati dengan kesucian hati dan kemurnian pikiran, kemudian diterapkan dalam sebuah ungkapan filosofis
Ngone O'Ria Dodoto yang bermakna
satu ibu satu kandung.
[8]Konsekuensi dari falsafah
Nanga Tau Mahurete dan
Ngone O'Ria Dodoto adalah lahirnya sebuah komunitas asli Halmahera Utara daratan maupun kepulauan dalam satu kesatuan yang teridentifikasi sebagai komunitas Hibua Lamo dan kemudian disimbolkan dalam rumah adat Himua Lamo.
[8]
Dalam konteks ini komunitas Tobelo, Galela, dan Loloda mengalami proses penyatuan dalam satu sosiokultural baru yang dinamis.
[8] Sosiokultural ini berlandaskan pada nilai-nilai
O'dora (saling kasih),
O'hanyangi (saling sayang),
O'baliara(saling peduli),
O'adili (perikeadilan) dan
O'diai (kebenaran) dalam bingkai
Nanga Tau Mahurete dan
Ngone O'Ria Dodoto.
[8]
Arumbae adalah bentukan karakter masyarakat Maluku, baik yang tinggal di pesisir maupun di pegunungan.
[9] Arumbae adalah kebudayaan berlayar dalam masyarakat Maluku.
[9] Perjuangan melintasi lautan merupakan bagian dari terbentuknya suatu masyarakat.
[9] Sebagai contoh, masyarakat Tanimbar - dalam mitos
Barsaidi meyakini bahwa leluhur mereka tiba di pulau Yamdena setelah melewati perjuangan yang sulit di lautan.
[9] Perjuangan melintasi lautan merupakan sejarah keluhuran.
[1] Kedatangan para leluhur dari pulau
Seram, pulau
Jawa (seperti
Tuban dan
Gresik) dan pulau
Balimenjadi bagian dari cerita keluhuran masyarakat di Maluku Tengah,
Buru,
Ambon, Lease, dan Maluku Tenggara.
[1] Ragam cerita inilah yang membentuk terjadinya persekutuan
Pela Gandong antar negeri.
[1] Dalam
pataka daerah Maluku, Arumbae menjadi simbol daerah yang di dalamnya terdapat lima orang sedang mendayung menghadapi tantangan lautan.
[1] Secara filosofis, maknanya ialah masyarakat Maluku adalah masyarakat yang dinamis, dan penuh daya juang dalam menghadapi tantangan untuk menyongsong masa depan yang gemilang.
[1]
Laut adalah medan penuh bahaya dan Arumbae menstrukturkan cara pandang bahwa laut adalah medan kehidupan yang harus dihadapi.
[1] Itulah sebabnya, masyarakat Maluku melihat laut sebagai
jembatan persaudaraan yang menghubungkan satu pulau dengan pulau lainnya.
[1] Berlayar ke suatu pulau, seperti dalam Pela Gandong bertujuan untuk mengeratkan jalinan
hidup orang bersaudara sebagai pandangan dunia orang Maluku.
[1] Kebiasaan
papalele,
babalu,
maano, dan konsekuensi berlayar ke pulau lain, membuat laut dan arumbae sebagai simbol perjuangan ekonomi.
[1]
Arumabe tampak dalam beragam karya seni.
[1] Misalnya dalam syair
kata tujuh ya nona, ditambah tujuh, sapuluh ampa ya nona dalang parao [1] Banyak
gapura negeri adat Maluku berbentuk Arumbae.
[1] Lagu daerah banyak mengumpamakan keharmonisan dengan simbol
perahu atau Arumbae.
[1] Di bidang olahraga,
Arumbae Manggurebe menjadi program
pariwisata dan
olah raga tahunan yang diselenggarakan di
Teluk Ambon.
[1]
Sasahil dan Nekora merupakan tradisi masyarakat adat di Negeri
Siri Sori Islam dan Negeri Siri Sori
Kristen di pulau
Saparua.
[10] Bagi masyarakat
desa Telalora, Nekora memiliki basis nilai tolong-menolong antarwarga.
[10] Nilai tradisi Sasahil dan Nekora terletak pada cara dan proses pelaksanaan.
[10] Nilai tolong-menolong yang terdapat dalam tradisi Sasahil maupun Nekora memiliki basis solidaritas yang kuat, dan menciptakan relasi saling memberi dan menerima antarwarga agar suatu pekerjaan berat untuk mendirikan rumah bisa lebih ringan.
[10] Dalam menghadapi dinamika kehidupan yang terus berubah, tradisi Sasahil dan Nekora selalu dipertahankan dan dipelihara dengan baik.
[10] Hal ini dimaksudkan sebagai modal sosial kelangsungan hidup bermasyarakat di masa mendatang.
[10]
- ^ a b c d e f g h i j k l m n o p Berlayar dalam Ombak, Berkarya bagi Negeri. Ralahalu Institute, 2012
- ^ a b Juni, 2010. Kepulauan Rempah-rempah: Perjalanan Sejarah Maluku Utara 1250-1950
- ^ a b c d e f Budaya Kalwedo di Maluku Barat Daya. Balai Pelestarian Nilai Budaya Ambon, 2012
- ^ a b c d e f g h i j k l "Budaya Kalwedo di Maluku Barat Daya". Unpatti. Diakses 2 April 2014.01.00.
- ^ a b Hawear di Kepulauan Kei. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Balai Pelestarian Budaya Ambon, 2012
- ^ a b c d e f Peranan Batu Pamali dalam Kehidupan Masyarakat Adat di Maluku. Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Balai Pelestarian Budaya Ambon, 2012.
- ^ a b c d e f g Upacara Fangnea Kidabela. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Balai Pelestarian Budaya Ambon, Jendela Buku, 2012
- ^ a b c d e f g Hibua Lamo dalam Kehidupan Masyarakat Adat Tobelo di Halmahera Utara. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Balai Pelestarian Budaya Ambon, 2012
- ^ a b c d e f g "Hibua Lamo dalam Kehidupan Masyarakat Adat Tobelo di Halmahera Utara". Unpatti. Diakses 9 April 2014.11.15.
- ^ a b c d e f Sasahil dan Nekora Tradisi Tutup Rumah di Maluku. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Balai Pelestarian Budaya Ambon, 2012